Sabtu, 07 Juni 2014
Cabang-cabang Ilmu Biologi
Cabang-Cabang Biologi dan Pengertiannya
Pertanyaan-pertanyaan
umum seperti apa yang membedakan makhluk hidup dan benda mati; proses apa yang
terjadi pada organisme agar dapat bertahan hidup dan berkembang biak; serta
bagaimana berbagai makhluk hidup berinteraksi satu sama lain tercetus selama
berabad-abad. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi fondasi ilmu
pengetahuan alam, khususnya Biologi.
Biologi berasal
dari bahasa Latin, bios yang berarti hidup dan logos yang berarti pengetahuan.
Jadi, Biologi artinya ilmu tentang kehidupan. Biologi mengaji objek dan ragam
persoalan dari berbagai tingkat organisasi kehidupan serta interaksinya dengan
faktor lingkungan. Biologi merupakan bidang studi dengan cakupan yang luas,
mulai dari proses kimia di dalam tubuh Anda hingga konsep mengenai ekosistem
serta perubahan iklim global.
1. Acarologi, ilmu yang mempelajari tentang acarina (tungau)
2. Aerobiologi, ilmu yang mempelajari partikel organik yang dapat diangkut oleh udara
3. Agroforestri, ilmu yang mempelajari bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek
4. Agronomi, ilmu yang mempelajari tentang tanaman budidaya
5. Algologi, ilmu yang mempelajari tentang alga
6. Anatomi atau ilmu urai tubuh, ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tubuh
7. Anatomi Perbandingan, ilmu mengenai persamaan dan perbedaan anatomi dari makhluk hidup.
8. Andrologi, ilmu yang mempelajari tentang macam hormon dan kelainan reproduksi pria
9. Anestesiologi, disiplin ilmu yang mempelajari penggunaan anestesi.
10. Angiologi, ilmu yang mempelajari penyakit sistem peredaran darah dan sistem limfatik
11. Antropologi biologi, ilmu yang mempelajari penelitian biologis dan budaya tentang keanekaragaman manusia, evolusi manusia, dan pembandingan anatomi, perilaku, sejarah, dan ekologi primat di masa lampau dan kini
12. Apiologi, ilmu yang mempelajari tentang lebah termasuk ternak lebah
13. Arachnologi, ilmu yang mempelajari tentang laba-laba.
14. Artrologi, ilmu yang mempelajari tentang sendi (penyakit sendi)
15. Artropodologi, ilmu yang mempelajari tentang hewan artropoda
16. Astrobiologi, studi yang mempelajari evolusi, distribusi, dan masa depan kehidupan di alam semesta
17. Bakteriologi, ilmu yang mempelajari tentang bakteri
18. Batrakologi, ilmu yang mempelajari tentang amphibia
19. Biofarmaka, ilmu yang mempelajari budidaya tanaman obat
20. Bioinformatika, ilmu yang mempelajari penerapan teknik komputasional untuk mengelola dan menganalisis informasi biologis
21. Biologi Air Tawar, ilmu yang mempelajari kehidupan dan ekosistem habitat air tawar
22. Biologi Evolusioner, ilmu yang mempelajari asal-usul spesies yang memiliki nenek moyang sama, dan penurunan spesies, serta perubahan, pertambahan, dan diversifikasinya sejalan dengan waktu.
23. Biologi Integratif, ilmu yang mempelajari organisme secara keseluruhan melalui fokus antarmuka antara biologi dan fisika, kimia, teknik, pencitraan, dan informatika
24. Biologi Kelautan, ilmu yang mempelajari kehidupan di laut (makhluk hidup beserta interaksinya dengan lingkungan)
25. Biologi Konservasi, studi tentang pelestarian, perlindungan, dan restorasi lingkungan alam, ekosistem alami, vegetasi, dan satwa liar
26. Biologi Kuantum, ilmu yang mempelajari aplikasi dari mekanika kuantum terhadap objek biologi dan permasalahannya
27. Biologi Lingkungan, ilmu yang mempelajari lingkungan beserta permasalahan dan solusinya, dengan mengintegrasikan akademik ilmu fisik dan biologi
28. Biologi Molekuler, kajian biologi pada tingkat molekul
29. Biologi Pembangunan, ilmu yang mempelajari lingkungan hidup dalam ruangan
30. ¬¬¬¬Biologi Perkembangan, ilmu yang mempelajari tentang proses pertumbuhan dan perkembangan organisme
31. Biologi Populasi, ilmu yang mempelajari tentang populasi organisme, terutama pengaturan jumlah populasi, ciri-ciri sejarah kehidupan populasi, dan kepunahannya
32. Biologi Psikologi, ilmu yang mempelajari pengaruh timbal balik antara bidang psikologis dan biologis terhadap satu sama lain
33. Biologi Reproduksi, cabang biologi yang mendalami tentang perkembangbiakan
34. Biologi Sintesis, ilmu yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempelajari desain dan konstruksi fungsi biologis baru serta sistem yang tidak ditemukan di alam
35. Biokimia, kajian biologi yang mempelajari kimia makhluk hidup
36. Biofisika. cabang ilmu biologi yang mengkaji aplikasi aneka perangkat dan hukum fisika untuk menjelaskan aneka fenomena hayati atau biologi
37. Biogeografi, cabang dari biologi yang mempelajari tentang keaneka ragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu
38. Biomatematika, ilmu yang mempelajari penelitian kuantitatif dari proses biologis, dengan penekanan pada pemodelan
39. Biomekanika, ilmu yang mempelajari penerapan prinsip mekanik untuk sistem biologis
40. Bionik, ilmu yang mempelajari penerapan metode biologis dan sistem yang ditemukan di alam untuk penelitian dan desain sistem rekayasa dan teknologi modern
41. Biostatistika, (gabungan dari kata biologi dengan statistika; kadang-kadang dirujuk sebagai biometri atau biometrika) adalah penerapan ilmu statistika ke dalam ilmu biologi
42. Bioteknologi, cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
43. Botani, ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan
44. Bryologi, ilmu yang mempelajari tentang bryophyta
45. Cetologi, ilmu pengetahuan yang mempelajari cetacean
46. Conchologi, ilmu pengetahuan yang mempelajari kulit moluska
47. Dendrokronologi, ilmu yang mempelajari analisis cincin lingkaran tahunan pada batang berkambium
48. Dendrologi, ilmu yang mempelajari tentang pohon maupun tumbuhan berkayu lainnya, seperti liana dan semak
49. Dermatologi, ilmu yang mempelajari kulit dan penyakitnya
50. Ekofisiologi, ilmu yang mempelajari adaptasi fisik suatu organisme terhadap kondisi lingkungannya
51. Ekologi, ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya
52. Ekologi molekuler, ilmu yang mempelajari ekologi pada tingkat molekul
53. Embriologi, ilmu yang mempelajari tentang perkembangan embrio
54. Endokrinologi, ilmu yang mempelajari tentang hormone
55. Entomologi, Ilmu yang mempelajari tentang serangga
56. Epidemiologi, ilmu yang mempelajari tentang penularan penyakit
57. Epigenetik, ilmu yang mempelajari perubahan dalam ekspresi gen yang disebabkan oleh mekanisme selain perubahan dalam urutan DNA yang mendasarinya
58. Epizoologi, ilmu mengenai penyakit menular yang menjangkiti hewan, biasanya hewan ternak
59. Etnobiologi, ilmu yang mempelajari hubungan yang dinamis antara manusia, biota, dan lingkungan dari jaman dahulu hingga sekarang
60. Etnobotani, ilmu yang mempelajari hubungan manusia dan tumbuhan
61. Etnozoologi, ilmu yang mempelajari hubungan manusia dan hewan
62. Etologi, cabang ilmu zoologi yang mempelajari perilaku atau tingkah laku hewan, mekanisme serta faktor-faktor penyebabnya
63. Eugenetika, ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat
64. Evolusi, ilmu yang mempelajari perubahan makhluk hidup dalam jangka panjang
65. Enzimologi, ilmu yang mempelajari tentang enzim
66. Farmakologi, ilmu yang mempelajari obat-obatan, interaksi dan efeknya terhadap tubuh manusia
67. Fenologi, ilmu yang mempelajari pengaruh iklim atau lingkungan sekitar terhadap penampilan suatu organisme atau populasi
68. Fikologi, ilmu yang mempelajari tentang alga.
69. Filogeni, kajian mengenai hubungan di antara kelompok-kelompok organisme yang dikaitkan dengan proses evolusi yang dianggap mendasarinya
70. Fisiologi, Ilmu yang mempelajari tentang faal/fungsi kerja tubuh
71. Fisioterapi, Ilmu yang mempelajari tentang pengobatan terhadappenderita yang mengalami kelumpuhan atau gangguan otot
72. Fitopatologi, cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari penyakit tumbuhan akibat serangan patogen ataupun gangguan ketersediaan hara
73. Florikultura, ilmu hortikultura yang mempelajari segala hal tentang tanaman hias
74. Gastrologi, ilmu yang mempelajari tentang salurang pencernaan, terutama lambung dan usus
75. Genetika, ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat
76. Genetika Ekologi, ilmu yang mempelajari genetika dalam ciri-ciri ekologi
77. Genetika Evolusioner, ilmu yang mempelajari evolusi dari pewarisan sifat mahkluk hidup
78. Genetika Kuantitatif, Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik)
79. Geobiologi, ilmu yang menggabungkan geologi dan biologi untuk mempelajari interaksi organisme dengan lingkungan mereka
80. Geriatri, ilmu yang mempelajari penyakit dari kaum berusia lanjut
81. Gerontologi, ilmu yang mempelajari melalui berbagai aspek terhadap proses penuaan yaitu melalui pendekatan biologis, psikologis, sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan
82. Genetika, ilmu yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi
83. Genetika kuantitatif, cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel
84. Genetika molekuler, cabang genetika yang mengkaji bahan genetik dan ekspresi genetik di tingkat subselular (di dalam sel)
85. Genetika populasi, ilmu yang mempelajari transmisi bahan genetik pada ranah populasi
86. Ginekologi, ilmu yang khusus mempelajari penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium)
87. Genomika, ilmu yang mempelajari tentang bahan genetik dari suatu organisme atau virus
88. Harpetologi, ilmu yang mempelajari reptilia dan ampibia (ular dan kadal)
89. Helminthologi, ilmu yang mempelajari tentang cacing
90. Hematologi, ilmu yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya
91. Herbakronologi, ilmu yang mempelajari analisis cincin pertumbuhan tahunan (atau cincin sederhana tahunan) dalam xylem akar sekunder tanaman herbaceous
92. Herpetologi, ilmu yang mempelajari reptilia dan ampibia (ular dan kadal)
93. Histologi, ilmu yang mempelajari tentang jaringan
94. Histopatologi, cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit
95. Higiene, ilmu yang mempelajari tentang kesehatan makhluk hidup
96. Hortikultura, ilmu pertanian yang mempelajari budidaya tanaman dari proses menanam sampai pasca panen yang meliputi tanaman sayur, buah-buahan, dan tanaman hias
97. Hortikultura Lanskap, ilmu hortikultura yang khusus membahas tentang pemanfaatan tanaman hortikultura, terutama tanaman hias dalam penataan lingkungan
98. Ikhtiologi, ilmu yang mempelajari tentang ikan
99. Ilmu gulma, ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya
100. Ilmu kedaruratan medis, ilmu yang mempelajari pertolongan pertama pada suatu penyakit
101. Ilmu kedokteran forensik, ilmu yang memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum
102. Ilmu kedokteran gigi, ilmu mengenai pencegahan dan perawatan penyakit atau kelainan pada gigi dan mulut melalui tindakan tanpa atau dengan pembedahan
103. Ilmu kedokteran hewan, ilmu yang menerapkan prinsip-prinsip ilmu kedokteran, diagnosis, dan terapi pada hewan
104. Ilmu kedokteran molekuler, ilmu kedokteran yang mengkaji tingkat molekul
105. Ilmu kesehatan masyarakat, ilmu yang mempelajari pemeliharaan, perlindungan, dan peningkatan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat
106. Ilmu pemuliaan, ilmu yang mempelajari kegiatan manusia dalam memelihara tumbuhan atau hewan untuk menjaga kemurnian galur atau ras sekaligus memperbaiki produksi atau kualitasnya melalui penerapan genetika
107. Ilmu produksi ternak, ilmu yang mempelajari perawatan ternak dengan benar dalam rangka meningkatkan kualitas dari produk ternak tersebut
108. Ilmu teknologi enzim, ilmu yang mempelajari tentang teknologi yang dapat digunakan untuk menghasilkan enzim
109. Imunohematologi, ilmu yang mempelajari tentang golongan darah
110. Imunologi, Ilmu yang mempelajari tentang sistem kekebalan (imun) tubuh
111. Imunoserologi, ilmu yang mempelajari identifikasi terhadap antibodi, investigasi masalah sistem kekebalan tubuh, dan mempelajari kecocokan organ untuk transplantasi
112. Informatika kedokteran, ilmu yang berurusan dengan penyimpanan, penarikan dan penggunaan data, informasi, serta pengetahuan biomedik secara optimal untuk tujuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
113. Kardiologi, ilmu yang mempelajari tentang jantung dan pembuluh darah
114. Karsinologi, ilmu yang mempelajari tentang crustacean
115. Kladistika, ilmu yang mempelajari metode klasifikasi spesies organisme ke dalam kelompok yang terdiri dari organisme nenek moyang dan semua keturunannya
116. Klimatologi, ilmu yang mempelajari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia
117. Kriobiologi, studi tentang bahan dan sistem biologis dengan suhu dibawah normal
118. Kriptozoologi, ilmu yang mempelajari pencarian hewan yang keberadaannya belum terbukti
119. Kronobiologi, ilmu yang mempelajari fenomena dalam mahkluk hidup secara periodik dan adaptasi mereka terhadap ritme bulan dan matahari
120. Likenologi, ilmu yang mempelajari lumut, simbiosis organisme terdiri dari asosiasi simbiosis akrab dari alga mikroskopis dengan jamur filamen.
121. Limnologi, ilmu yang mempelajari tentang rawa
122. Malakologi, ilmu yang mempelajari tentang moluska
123. Mamologi, ilmu yang mempelajari tentang mammalia
124. Mellisopalinologi, ilmu yang mempelajari serbuk sari yang terkandung dalam madu dan sumber serbuk sari tersebut
125. Metabolomika, kajian dalam biologi molekular yang memusatkan perhatian pada keseluruhan produk proses enzimatik yang terjadi di dalam sel
126. Mikobiologi, ilmu yang mempelajari tentang jamur
127. Mikrobiologi, ilmu yang mempelajari tentang organisme mikro
128. Mikrobiologi kedokteran, studi mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit yang penting bagi medis dan mampu menyebabkan penyakit pada manusia.
129. Miologi, ilmu yang mempelajari tentang otot
130. Mirmekologi, ilmu yang mempelajari tentang rayap
131. Morfologi, ilmu yang mempelajari tentang bentuk atau ciri luar organisme
132. Nasofaringologi, ilmu yang mempelajari tentang nasofaring
133. Nematologi, ilmu yang mempelajari tentang nematoda
134. Nefrologi, cabang medis internal yang mempelajari fungsi dan penyakit ginjal
135. Neufarmakologi, ilmu yang mempelajari narkoba yang mempengaruhi fungsi seluler di dalam system saraf
136. Neuroethologi, ilmu yang mempelajari kebiasaan hewan beserta saraf yang berperan aktif dalam mengendalikan kebiasaan tersebut
137. Neurologi, ilmu yang menangani penyimpangan pada sistem saraf
138. Neurosains, ilmu yang mempelajari sistem saraf atau sistem neuron
139. Neurosains Evolusioner, ilmu yang mempelajari evolusi dan sejarah alami struktur dan fungsi sistem saraf
140. Nosologi, ilmu yang mempelajari bagian pengelompokan penyakit untuk tujuan tertentu
141. Nutrisi, ilmu yang mempelajari penyediaan bahan yang diperlukan (dalam bentuk makanan) untuk mendukung kehidupan sel dan organisme
142. Obstetri, ilmu kedokteran yang berhubungan dengan persalinan, hal-hal yang
mendahuluinya dan gejala-gejala sisanya
143. Oftalmologi, ilmu yang mempelajari tentang mata (penyakit mata)
144. Olerikultura, ilmu hortikultura yang mempelajari segala hal tentang sayur
145. Onkologi, ilmu yang mempelajari tentang kanker dan cara pencegahannya
146. Ontogeni, Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhluk hidup dari
zigot menjadi dewasa
147. Ornitologi, ilmu yang mempelajari tentang burung
148. Organologi, ilmu yang mempelajari tentang organ
149. Ortodonti, ilmu kedokteran gigi yang berhubungan dengan faktor variasi genetik, pertumbuhkembangan dan bentuk wajah serta cara faktor tersebut mempengaruhi oklusi gigi dan fungsi organ di sekitarnya.
150. Ortopedi, ilmu yang mempelajari cedera akut, kronis, dan trauma, serta gangguan lain pada system muskuloskeletal
151. Oseanografi, ilmu yang mempelajari tentang laut, termasuk kehidupan laut, lingkungan, geografi, cuaca, dan aspek lain yang mempengaruhi laut
152. Osteologi, ilmu yang mempelajari tentang tulang
153. Otolaringologi, ilmu yang mempelajari meneliti diagnosis dan pengobatan penyakit telinga, hidung, tenggorokan, serta kepala dan leher.
154. Otologi, ilmu yang mempelajari tentang telinga dan kelainannya serta operasi mikro telinga.
155. Palaentologi, Ilmu yang mempelajari tentang fosil
156. Paleobotani, ilmu yang mempelajari tumbuhan masa lampau
157. Paleozoologi, ilmu yang mempelajari tentang hewan purba
158. Palinologi, ilmu yang mempelajari polinomorf yang ada saat ini dan fosilnya, diantaranya serbuk sari, sepura, dinoflagelata, kista, acritarchs, chitinozoa, dan scolecodont, bersama dengan partikel material organik dan kerogen yang terdapat pada sedimen dan batuan sedimen
159. Parasitologi, ilmu yang mempelajari tentang parasit
160. Patologi, ilmu yang mempelajari tentang penyakit
161. Patologi anatomi, ilmu yang mempelajari kelainan struktur mikroskopik dan makroskopik berbagai organ dan jaringan yang disebabkan penyakit atau proses lainnya
162. Patologi Klinik, ilmu yang mempelajari kelainan yang terjadi pada berbagai fungsi organ atau sistem organ
163. Pediatri, ilmu yang mempelajari masalah penyakit pada bayi dan anak
164. Penelitian Biomedis, adalah ilmu penelitian dasar, terapan, atau translasi yang dilakukan untuk membantu dan mendukung pengetahuan di bidang kedokteran
165. Perinatologi, ilmu yang mempelajari kesehatan janin dalam kandungan dan kesehatan bayi yang baru lahir
166. Periodonti, ilmu mempelajari aspek klinis dari jaringan yang mendukung gigi
167. Philogeni, Ilmu yang mempelajari tentang perkembangan makhlukhidup
168. Planktologi, ilmu yang mempelajari tentang plankton
169. Pomologi, ilmu hortikultura yang mempelajari segala hal tentang buah
170. Primatologi, ilmu yang mempelajari tentang primate
171. Proktologi, ilmu yang mempelajari gangguan pada rektum, anus, dan usus besar
172. Proteomika, kajian secara molekular terhadap keseluruhan protein yang
dihasilkan dari ekspresi gen di dalam sel.
173. Protozoologi, ilmu yang mempelajari tentang protozoa
174. Psikiatri, ilmu kedokteran jiwa
175. Pteridologi, ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan paku
176. Pulmonologi, ilmu yang mempelajari tentang paru-paru
177. Radiologi, ilmu untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi geombang, baik gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik
178. Reumatologi, ilmu yang ditujukan untuk diagnosis dan terapi kondisi dan penyakit yang mempengaruhi sendi, otot, dan tulang
179. Rekayasa Genetika, ilmu yang mempelajari tentang manipulasi sifat genetis
180. Rematologi, ilmu yang mempelajari diagnosis dan terapi penyakit rematik
181. Rodentiologi, ilmu yang mempelajari tentang rodentia
182. Sitologi, ilmu yang mempelajari tentang sel
183. Sanitasi, ilmu yang mempelajari tentang kesehatan lingkungan
184. Simbiologi, ilmu yang mempelajari hubungan simbiosis antar mahkluk hidup
185. Sindesmologi, ilmu yang mempelajari tentang sendi
186. Sosiobiologi, bidang studi ilmiah yang didasarkan pada asumsi bahwa perilaku sosial telah dihasilkan dari evolusi dan upaya untuk menjelaskan dan memeriksa perilaku sosial dalam konteks tersebut
187. Stomatologi, ilmu yang mempelajari mulut beserta penyakit-penyakitnya
188. Taksonomi, ilmu yang mempelajari tentang sistematika makhluk hidup
189. Teknik Biokimia, cabang ilmu dari teknik kimia yang berhubungan dengan perancangan dan konstruksi proses produksi yang melibatkan agen biologi
190. Teknik Biomedis, ilmu yang mempelajari prinsip teknis untuk praktik kedokteran
191. Teratologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan formasi dari sel, jaringan, dan organ yang dihasilkan dari perubahan fisiologi dan biokimia.
192. Toksikogenomik, ilmu pengumpulan, interpretasi, dan penyimpanan informasi tentang gen dan aktivitas protein dalam jaringan tertentu dari suatu organisme dalam menanggapi zat beracun.
193. Toksikologi, pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh bahan kimia yang merugikan bagi organisme hidup.
194. Transkriptomika, bagian dari biologi molekular yang mengkaji tentang produk transkripsi secara keseluruhan (transkriptom)
195. Traumatologi, ilmu yang mempelajari luka, terapi bedah, maupun perbaikan
kerusakannya
196. Urologi, cabang ilmu kedokteran yang mencakup ginjal dan saluran kemih pada pria dan wanita baik dewasa dan anak serta organ reproduksi pada pria
197. Veneorologi, ilmu yang mempelajari penyakit menular seksual
198. Virologi, ilmu yang mempelajari tentang virus
199. Viscerologi, ilmu yang mempelajari organ dalam
200. Xenobiologi, ilmu pengetahuan spekulatif tentang adanya makhluk hidup selain di bumi
201. Zoologi, ilmu yang mempelajari tentang hewan
202. Zoologi Perbandingan, ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan antar hewan
203. Zoosemiotik, ilmu yang mempelajari tentang hubungan antar hewan
Jumat, 06 Juni 2014
Pinus Merkusii
WERKSTUK
KARYA
TULIS INI UNTUK MELENGKAPI
PRAKTIKUM
MORFOLOGI TUMBUHAN
LABORATORIUM
PRODI BIOLOGI
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2014
WERKSTUK
Pinus
merkusii
Jungh & De Vr
(Tusam)
Disusun
oleh:
Nama
: Rismayanti
NIM
:
TB. 131 118
Jurusan : Pendidikan
Biologi
Fakultas :
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Dosen :
Suraida, S.Si.,M.Si.
LABORATORIUM PRODI BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN
THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2014
i
LEMBAR PENGESAHAN
Disusun sebagai salah satu
syarat menempuh praktikum Mata Kuliah Morfologi Tumbuhan yang diselenggarakan
oleh Laboratorium Prodi Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut
Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
Telah
disetujui dan disahkan pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 07 Mei 2014
Tempat : Laboratorium Prodi
Biologi,
Institut Agama Islam Negeri STS Jambi
Jambi, 07 Mei 2014
Dosen pembimbing,
Penyusun,
( Suraida, S.Si, M.Si ) ( Rismayanti )
NIP. 19781220 200912 2
002) NIM TB. 131 118
ii
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, dan junjungan kita Nabi Muhammad
SAW, karena atas berkat rahmat dan bimbingan-Nya penulis dapat menyusun
werkstuk dengan judul “Pinus merkusii Jungh
& De Vr” tepat pada waktunya.
Adapun
maksud disusunnya werkstuk ini adalah sebagai syarat mengikuti praktikum
Morfologi Tumbuhan, Prodi Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Institut
Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Pada kesempatan ini pula
penulis ucapkan terim kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu
Suraida, S.Si, M.Si selaku Dosen mata kuliah Morfologi Tumbuhan,
2. Ibu
Rita Safitri dan Ibu Susi selaku Pegawai Laboran Prodi Biologi, serta
3. Rekan-rekan
Mahasiswa Prodi Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Penulis
menyadari baha dalam penyusunan werkstuk ini masih jauh dari sempurna karena
mengingat adanya keterbatasan referensi dan pengetahuan yang penulis miliki.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari
pembaca untuk kesempurnaan dan kemajuan penyusun selanjutnya. Akhir kata
penulis berharap semoga werkstuk ini dapat bermanfaat bagi perkembangan
pengetahuan kita semua.
Jambi, 07 Mei 2014
Penulis
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul…………………………………………………………………………………. i
Lembar Pengesahan………………………………………………………………………..….
ii
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………
iii
Daftar Isi………………………………………………………………………………….…….
iv
I.
Pendahuluan………………………………………………………….……… 1
II.
Klasifikasi………………………………………………………………………2
III.
Habitatio…………….………………………………………………………….3
3.1.
Habitus…………………………………………………………………3
3.2.
Habitat………………………………………………………………….3
IV.
Descriptio ……………………………………………………………………...4
4. 1. Alat
Nutritive…………………………………………………………….4
4.1.1
Akar……………………………………….……………………….…4
4.1.2
Batang……………………………………………………………….5
4.1.3.
Daun………………………………………………….…………..…6
4.2.
Alat Reproduktive………………………………………………………...6
4.2.1 Bunga……………………………………….………..………………6
4.2.2 Buah dan Biji ………………………………………………..……..7
V. Ringkasan………………………………………………………………………......8
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………9
Lampiran
iv
I.
PENDAHULUAN
Di Indonesia Pinus mempunyai nama lain yaitu tusam. P.
sumatrana Jungh.; P. finlaysoniana Wallich; P. latteri Mason;
P. merkiana Gordon. Nama lokal;
uyam (Aceh); son song bai (Thai);merkus pine (perdagangan); mindoro pine
(Philipina); tenasserim pine (Inggris). Jenis ini secara alami tersebar dari
garis Bujur Timur 95°30’ hingga 121°30’ dan garis Lintang Utara 22° hingga
garis Lintang Selatan 2°. Satu-satunya pinus yang
penyebaran alaminya sampai di selatan khatulistiwa. Di Asia Tenggara menyebar
di Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Indonesia (Sumatra), dan Filipina
(P. Luzon dan Mindoro).
Pinus
merkusii atau tusam merupakan satu-satunya jenis pinus asli
Indonesia. Di daerah Sumatera, tegakan pinus alam dapat dibagi kedalam tiga strain, yaitu:
1. Strain Aceh, Penyebarannya dari pegunungan Selawah Agam sampai sekitar Taman
Nasional Gunung Leuser. Dari sini menyebar ke selatan mengikuti pegunungan
bukit barisan lebih kurang 300 km melalui Danau Laut Tawar, Uwar, Blangkejeren
sampai ke Kotacane. Di daerah ini tegakan pinus pada umumnya terdapat
pada 800-2000 mdpl.
2. Strain Tapanuli, Menyebar di
daerah Tapanuli ke selatan Danau Toba. Tegakan pinus alami yang umum terdapat
di pegunungan Dolok Tusam dan Dolok Pardomuan. Di daerah ini tegakan
pinus tumbuh secara pada ketinggian 1000-1500 mdpl (Butar-Butar et al.,1998).
3. Strain Kerinci, Menyebar di
sekitar pegunungan kerinci . tegakan pinus alami yang luas terdapat di antara
Bukit Tapan dan Sungai Penuh. Di daerah ini tegakan pinus tumbuh
secara alami umumnya pada ketinggian 1500-2000 mdpl. (Butar-Butar et al.,1998)
dalam Sibarani, P.
Pohon pinus memiliki berbagai
manfaat yang besar baik hasil kayu maupun non kayunya. Kayu pinus digunakan
untuk berbagai keperluan seperti konstruksi ringan, mebel, pulp, korek api dan
sumpit.
1
II.
KLASIFIKASI
Klasifikasi tumbuhan Pinus merkusii Jungh & De Vr :
-
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
-
Sub
Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
-
Divisio : Spermatophyta (Menghasilkan
biji)
-
Super
Divisio :
Gymnospermae
-
Classis : Coniferinae
-
Sub
Classis : Dillenidae
-
Ordo : Coniferales
-
Famili : Pinaceae
-
Genus : Pinus
-
Spesies : Pinus merkusii Jungh.& De Vr
2
III.
HABITATIO
3.1.
Habitus
Pinus merkusii Jungh & De Vr adalah tanaman
perdu yang memiliki tinggi 10-40 m Tanaman pinus (Pinus merkusii) berperawakan pohon dengan ketinggian 1-40 meter.
Sistem perakarannya mempunyai sistem akar tunggang (radix primaria). Batangnya berupa batang berkayu berbentuk bulat (teres) dengan permukaan batang beralur (sulcatus). Daunnya merupakan daun
majemuk. Bunganya berkelamin satu (uniseksualis)
berumah satu (monoecus). Bijinya terletak
pada dasar setiap sisik buah, setiap sisik menghasilkan dua biji, bulat telur dan pipih serta bersayap. Sayap melekat
pada biji.
3.2.
Habitat
Pinus merkusii tumbuh pada
ketinggian 300 - 1.800 m dpl, pada berbagai tipe tanah dan iklim. Curah
hujan tahunan rata-rata 3.800 mm di Filipina hingga 1.000-1.200 mm di Thailand
dan Burma. Di tegakan alam Sumatra (Aceh, Tapanuli dan Kerinci), tidak satu
bulan pun curah hujan kurang dari 50 mm, artinya tidak ada bulan kering. Suhu
tahunan rata-rata 19-28oC.
3
IV.
DESCRIPTIO
4.1.Alat
Nutritive
4.1.1. Akar
Si Sistem akar pada Pinus merkusii adalah
bersistem akar tunggang (Radix Primaria),
kuat, bercabang dan Biasanya berwarna coklat. Akar tunggang memiliki
ciri khas yaitu pada akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang
bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil, sehingga dapat
memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga daerah perakaran
menjadi luas hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.
4.1.2. Batang
4444
Batang kayu pinus memiliki ciri
warna teras yang sukar dibedakan dengan gubalnya, kecuali pada pohon berumur
tua, terasnya berwarna kuning kemerahan, sedangkan gubalnya berwarna putih
krem. Pinus merupakan pohon yang tidak berpori namun mempunyai saluran damar
aksial yang menyerupai pori dan tidak mempunyai dinding sel yang jelas.
Permukaan radial dan tangensial pinus mempunyai corak yang disebabkan karena
perbedaan struktur kayu awal dan kayu akhirnya, sehingga terkesan ada pola
dekoratif. Riap tumbuh pada pinus agak jelas terutama pada pohon-pohon yang
berumur tua, pada penampang lintang kelihatan seperti lingkaran-lingkaran
memusat
Pohon Pinus merkusii mempunyai batang yang dibagian bawahnya lebih besar dan
ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai suatu kerucut
atau limas yang memanjang.
4
Di lihat dari
berbagai segi, batang pada Pinus merkusii berstruktur sebagai berikut:
-
Bentuk
Penampang Melintangnya
Di lihat
penampang melintangnya, batang pada Pinus merkusii berbentuk bulat
(Teres). Tegakan masak dapat mencapai
tinggi 30 m dengan diameter 60 – 80 cm. Tegakan tua mencapai tinggi 45 m dengan
diameter 140 cm. Tajuk pohon muda berbentuk pyramid, setelah tua menjadi lebih
rata dan tersebar.
-
Permukaan
Batang
Permukaan pada
batang Pinus merkusii adalah
memperlihatkan retak-retak,
biasanya berwarna coklat. Kulit pohon muda abu-abu,
sesudah tua berwarna gelap, alur dalam. kulit
berwarna coklat tua , kasar beralur dalam dan menyerpih dalam kepingan panjang.
Kayu bertekstur halus, bila diraba licin dan mengandung damar (resin),
permukaan mengkilap warna kuning muda, serat halus (Dirjen Kehutanan 1976).
Struktur kayu pinus tidak berpori dengan parenkim melingkari saluran damar,
memiliki berat jenis (BJ) rata-rata 0,55 (terendah 0,40 dan tertinggi 0,75)
dengan kelas kuat II sampai III dan kelas awet IV. Kulit pohon berwarna abu-abu
muda, sesudah tua berwarna gelap, alur dalam. Terdapat 2 jarum dalam satu
ikatan dengan panjang 16-25 cm.
-
Arah Tumbuh
Batang
Arah tumbuh
batang ini adalah arah yang lazim pada tumbuhan lainnya yaitu tumbuh tegak lurus ke atas (erectus).
-
Percabangan
Batang
Batang Pinus merkusii, percabangan
batangnya monopodial karena bisa di lihat bahwa batang pokok tampak lebih jelas
(lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya. : Batang pada Pinus merkusii berupa batang berkayu berbentuk bulat (teres) dengan
permukaan batang beralur (sulcatus). Arah tumbuh tegak lurus (erectus) dengan
percabangan monopodial
5
4.1.3. Daun
Tanaman ini daunnya termasuk daun majemuk dengan kedudukan
daun folia sparsa. Bangun
daun acerocus (jarum), yaitu berupa bangun paku, lebih kecil dan
meruncing panjang. Daunnya tidak ada bagian yang terlebar atau dari pangkal
sampai ujung hampir sama lebar.
Daunnya
jarang yang berdaun lebar, jarang yang bersifat majemuk, dan sistem pertulangan
daunnya tidak banyak ragamnya.
Daun
bentuk jarum dan berkelompok atau serupa sisik; daun dan sisik tersusun spiral;
sisik dan braktea lepas.
Panjang daun 10-20cm
Pangkal daun diselubungi sisik
berupa selaput tipis
Warna
daun hijau Daun
1. Ujung daun meruncing
2. tepi daun Rata
3. Pangkal daun rompang
4. Daun Majemuk beranak daun dua.
1. Ujung daun meruncing
2. tepi daun Rata
3. Pangkal daun rompang
4. Daun Majemuk beranak daun dua.
Ranting pendek mirip pasak berdaun
dua, berbentuk jarum.
4.2.
Alat Reproduktive
4.2.1.
Bunga
Pinus merkusii Jungh & De Vr merupakan
tumbuhan berumah satu ( monoecus unisexsualis). Bunga terbagi menjadi strobilus
jantan dan betina. Strobilus jantan berbentuk silindris dengan panjang 2-4 cm.
Sedangkan strobilus betina berbentuk kerucut, ujungnya runcing, bersisik dan
biasanya berwarna coklat, pada tiap bakal biji terdapat sayap. Bunga muda berwarna
kuning sedangkan bunga tua berwarna coklat. Strobili betina banyak terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama di
ujung dahan.
6
4.2.2.
Buah dan Biji
Pinus merkusii Jungh & De Vr memiliki buah
berbentuk kerucut, silindris dengan panjang 5-10 cm dan lebar 2-4 cm. Lebar
setelah terbuka lebih dari 10 cm berbentuk kerucut, silindris,
panjang 5 – 10 cm, lebar 2 – 4 cm. Lebar setelah terbuka lebih dari 10 cm.
Bijinya berbentuk pipih dan bulat
telur dilengkapi dengan sayap, dihasilkan pada setiap dasar bunga atau sisik
buah, setiap sisik menghasilkan dua biji, biji biasanya berwarna putih
kekuningan.
7
V.
RINGKASAN
Pinus
merkusii Jungh & De
Vr mempunyai sistem akar tunggang (Radix Primaria),
percabangan
batangnya monopodial,
daunnya termasuk daun majemuk dengan
kedudukan daun folia sparsa. Bangun
daun acerocus (jarum), yaitu berupa bangun paku, lebih kecil dan
meruncing panjang. Tumbuhan ini merupakan
tumbuhan berumah satu ( monoecus unisexsualis), memiliki buah berbentuk
kerucut, silindris dengan panjang 5-10 cm dan lebar 2-4 cm. Bijinya berbentuk
pipih dan bulat telur dilengkapi dengan sayap, dihasilkan pada setiapdasar
bunga atau sisik buah, setiap sisik menghasilkan dua biji, biji biasanya
berwarna putih kekuningan. Ranting pendek mirip pasak berdaun dua, berbentuk
jarum.
8
DAFTAR PUSTAKA
Harahap,
R. M. S. 2002. Keragaman Sifat dan Uji Asal Benih Pinus merkusii di
Sumatera. Buletin Penelitian Kehutanan Pematang Siantar: Siantar.
Hidayat Jajat & Hansen. 2001. Informasi
singkat Benih ; http://bpthbalinusra.net/ sbseedleaflet 105- tusam-pinus-
merkusii-jungh.html. Diakses tanggal 20 April 2014
Tjitrosoepomo, Gembong, 1985. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada
University Press: Yogyakarta.
9
LAMPIRAN
1.
Gambar
Pinus Merkusii Jungh & De Vr
|
3
|
|
1
|
|
2
|
Keterangan
:
1. Batang
(caulis)
2.
Percabangan Monopodial
3.
Helaian daun (lamina)
2. Gambar Akar ( radix )
|
1
|
1. Batang
(caulis )
2.
Cabang akar ( radix lateralis)
·
Sistem akar tunggang (Radix Primaria), kuat,
bercabang dan Biasanya berwarna coklat
3. Gambar Daun ( folia )
|
3
|
|
2
|
|
1
|
1. Ujung
daun meruncing
2. Tepi
daun Rata
3. Pangkal
daun rompang
· Daun
Majemuk beranak daun dua
· Kedudukan daun folia sparsa.
· Bangun daun acerocus (jarum), yaitu berupa bangun paku,
4. Gambar Bunga ( flos )
· Bunga terbagi menjadi strobilus
jantan dan betina.
· Strobilus jantan berbentuk silindris
dengan panjang 2-4 cm.
· Strobilus betina berbentuk kerucut,
ujungnya runcing, bersisik dan biasanya berwarna coklat, pada tiap bakal biji
terdapat sayap.
5.
Gambar
Diagram Bunga
Rumus
bunga :
(♂♀)↑
K1+2,C2+0, A3, G1
Artinya
bunga berjenis kelamin tunggal, bersimetri satu (actinomorphus), calyx berjumlah 1 dalam keadaan lepas ditambah
dengan 2 calyx tambahan(epicalyx) dalam
keadaan lepas, corolla berjumlah 5
dalam keadaan lepas, androecium berjumlah 3 dalam keadaan lepas, dan gynoecium
berjumlah 1 posisinya berada di tengah.
6. Gambar Biji ( semen)
Langganan:
Postingan (Atom)

